Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
agribisnis
eproduk
M-KRPL
banner2
banner4
Brosur


Pembuatan Kompos Jerami di Lahan Sawah (2008) PDF Cetak E-mail
Oleh Ikrarwati, dkk   
Selasa, 13 Juli 2010 00:00

PENDAHULUAN

Peningkatan produksi beras nasional telah dilakukan dengan berbagai upaya diantaranya melalui pemupukan. Namun dilihat dari tingkat produktivitas lahan sawah selama ini nampakadanya penurunan hasil. Penambahan input usaha tani tidak seimbang dengan output yang dihasilkan. Hal ini menjadi indikasi bahwa efisiensi pemupukan sudah menurun.

Pemakaian pupuk anorganik secara intensif serta penggunaan bahan organik yang terabaikan menyebabkan bahan organik tanah menurun. Keadaan ini menurunkan produktivitas lahan. Dalam meningkatkan produksi padi perlu dilakukan tindakan untuk mempertahankan kandungan bahan organik tanah sawah dengan memanfaatkan jerami padi.

Sisa panen berupa jerami padi bisa mencapai 10-15 ton/ha. Jerami yang dihasilkan dari sisa-sisa panen sebaiknya jangan dibakar, tetapi diolah menjadi kompos dan dikembalikan lagi ke tanah. Kompos jerami ini secara bertahap dapat menambah kandungan bahan organik tanah, dan lambat laun akan mengembalikan kesuburan tanah. Menurut Arifin et al. (1993), pemberian 5 ton/ha jerami dapat menghemat pemakaian pupuk KCl sebesar 100 kg/ha. Respon padi terhadap N, P dan K

sebagai hara utama dipengaruhi oleh beberapa faktor diantarnya adalah penggunaan bahan organik. Melihat kondisi dan potensi yang ada maka sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani mengenai manfaat jerami dan pembuatan kompos dengan bahan baku jerami sebagai sumber bahan organik yang sudah tersedia di lahan sawah.

Waktu dan Lokasi Pengomposan
Waktu pengomposan sebaiknya segera setelah panen. Setelah kompos matang dalam waktu kira-kira satu bulan, kompos bisa segera disebarkan di petak sawah bersamaan dengan pengolahan tanah. Lokasi pengomposan dilakukan di petak sawah yang akan diaplikasi atau dipetak dimana jerami tersebut dipanen. Lokasi sebaiknya dipilih dekat dengan sumber air, karena pembuatan kompos membutuhkan banyak air. Lokasi juga harus disesuaikan untuk kemudahan saat aplikasi.

 

Brosur isi lengkap silahkan kirim pesan melalui  email

Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya / Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

LAST_UPDATED2
 
Pengembangan Sistem Pemeliharaan Terpadu Itik dengan Padi Sawah di Wilayah DKI Jakarta (2008) PDF Cetak E-mail
Oleh Dini, dkk   
Senin, 12 Juli 2010 00:00

I. PENDAHULUAN

Kebutuhan itik pedaging di Jakarta mencapai lebih dari 5.000 ekor dalam setiap harinya. Sebagian dari itik pedaging yang dijual tersebut adalah itik betina afkir, itik jantan dan entok yang dipelihara oleh peternak di wilayah DKI Jakarta, dan sebagian besar berasal dari pasar itik yang berada di Tangerang, Karawang dan Bekasi. Itik yang dijual di tiga pasar tersebut selain berasal dari wilayah sekitarnya, juga umumnya didatangkan dari daerah lain, seperti dari; Bandung, Pamanukan, Indramayu, Cirebon, dan Cilacap.

Pemeliharaan terpadu antara itik petelur dengan padi sawah sudah biasa dilakukan oleh peternak DKI Jakarta terutama Jakarta Utara dan Jakarta Timur, karena sampai saat ini masih banyak itik petelur yang dipelihara secara tradisional, yaitu digembalakan secara berpindah dari suatu lokasi sawah setelah panen ke lokasi lainnya.

Sistem pemeliharaan terpadu (sistem integrasi) antara pemeliharaan itik pedaging dengan padi sawah sampai saat ini belum banyak dilakukan oleh petani DKI Jakarta, hal ini disebabkan antara lain karena belum tersedianya bibit khusus untuk itik pedaging ( bibit tiktok atau itik jantan) yang dapat dengan mudah diperoleh oleh peternak.

Adapun keuntungan yang diperoleh dari sistem integrasi ini adalah meliputi : a) berkurangnya biaya produksi akibat penurunan penggunaan pupuk, pestisida dan herbisida serta upah tenaga kerja untuk menyiang rumput, b) padi/beras yang dihasilkan menjadi padi/beras organik mempunyai harga jual yang
lebih tinggi, c) peningkatan mutu dan kondisi lahan karena penggunaan pupuk an-organik yang minimal, d) biaya produksi itik menjadi lebih rendah karena sebagian besar sumber pakan berasal dari bahan lokal.

Beberapa tahun terakhir ini telah berhasil dikembangkan itik pedaging unggul, merupakan persilangan antara entok jantan dengan itik betina yang biasa dikenal sebagai itik Serati. Itik hasil persilangan ini sekarang disetujui untuk disebut sebagai Tiktok. Tiktok mempunyai berbagai kelebihan yaitu cepat tumbuh, sehingga mempunyai bobot potong yang lebih besar. Selain itu jumlah bagian dagingnya lebih banyak dan mempunyai kandungan lemak daging yang lebih rendah dengan tekstur daging lebih empuk, sehingga rasanya lebih gurih daripada itik petelur.

Salah satu kelemahan dari pemeliharaan tiktok secara intensif adalah dalam hal biaya pakan, terutama apabila dipelihara secara intensif dalam kandang dengan pemberian pakan komersial. Untuk pemeliharaan selama 8 minggu, agar mencapai bobot sekitar 2,1 kg diperlukan pakan sebanyak 6,04 kg atau dengan nilai konversi pakan (FCR) sebesar 2,88. Oleh sebab itu perlu dicarikan upaya agar biaya pemeliharaan dapat ditekan atau dikurangi sehingga keuntungan yang diperoleh dapat menjadi lebih meningkat. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah melalui pemeliharaan tiktok/ itik pedaging secara terintegrasi dengan padi sehingga biaya pemeliharaan itik/tiktok dapat ditekan, keuntungan meningkat dan kegiatan usahatani dari padi sawah menjadi lebih efisien.

II. PEMELIHARAAN TERPADU TIKTOK/ITIK DENGAN PADI SAWAH

Untuk pemeliharaan terpadu tiktok/itik dengan padi sawah perlu dipersiapkan dulu lahan sawah yang telah ditanami padi varietas unggul (VUTB) dengan sistem tanam jajar legowo 2 baris yang tujuannya untuk memberikan ruang yang lebih luas untuk tiktok/itik dapat bergerak atau berenang dengan leluasa. Selain itu perlu pembuatan kandang tiktok/itik di pinggir sawah yang berfungsi sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan.

1. Tanam Jajar Legowo
2. Pemeliharaan Tiktok/Itik MA di Sawah

III. ANALISIS USAHATANI

Produksi padi yang dihasilkan dengan cara tanam tradisional dan tanpa integrasi tiktok dihitung dengan luas lahan 1 hektar (10.000 m2) adalah sebesar 5.000 kg (Tabel 1). Harga jual gabah kering giling Rp2,000,- per kilogram, hasil penjualan gabah sebanyak 5.000 kg adalah sebesar Rp 10.000.000. Adapun biaya usahatani padi tersebut mencapai Rp.4.646.500 per sekali panen, sehingga pendapatan dari usahatani padi secara tradisional dan tanpa teknologi integrasi tiktok hanya sebesar Rp.5.354.000/Ha/musim.

Brosur isi lengkap silahkan kirim pesan melalui  email

Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya / Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya

LAST_UPDATED2
 
Penangkaran Bibit Tiktok di Tingkat Petani (2008) PDF Cetak E-mail
Oleh Uming, dkk   
Jumat, 09 Juli 2010 00:00

I. PENDAHULUAN
Kebutuhan penduduk Jakarta akan itik pedaging dapat mencapai 5.000 ekor setiap harinya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut itik betina dan itik jantan yang sudah afkir dijadikan sebagai itik pedaging karena sampai saat ini peternakan yang khusus menyediakan itik pedaging belum banyak.

Beberapa tahun terakhir ini telah berhasil dikembangkan itik pedaging unggul, merupakan persilangan antara entok jantan dengan itik betina yang biasa dikenal sebagai itik Serati. Itik hasil persilangan ini sekarang disetujui untuk disebut sebagai Tiktok. Perkawinan ini sebenarnya impossible terjadi, mengingat ukuran dan bobot entok jantan yang jauh lebih besar dan berat daripada itik betina. Karena itu, dilakukan dengan kawin suntik (artificial insemination). Di samping itu, perkawinan antara entok jantan (rata-rata berbobot 5 kg) dengan itik betina (rata-rata berbobot 1,5 kg) akan menghasilkan tiktok seberat minimal 3 kg. Tiktok mempunyai berbagai kelebihan yaitu cepat tumbuh, sehingga mempunyai bobot potong yang lebih besar. Selain itu jumlah bagian dagingnya lebih banyak dan mempunyai kandungan lemak daging yang lebih rendah dengan tekstur daging lebih empuk, sehingga rasanya lebih gurih daripada itik petelur.

Namun usaha peternakan tiktok ini masih belum banyak diminati masyarakat sebagai salah satu alternatif usaha yang cukup menguntungkan. Permasalahan yang banyak ditemui adalah keraguan masyarakat akan jaminan pasar untuk menjual produk dan ketersedian bibit tiktok yang tidak jelas. Artinya bila disaat produksi sudah berjalan peternak bingung memasarkan, sementara bila permintaan tinggi maka bibit tiktok susah diperoleh. Untuk mengatasi salah satu permasalahan yang dihadapi petani yaitu ketersediaan bibit tiktok maka BPTP Jakarta telah melakukan kajian dan melatih salah satu kelompok yang ada di Jakarta Utara untuk memproduksi bibit tiktok ini walaupun skala pengembangannya belum besar hanya untuk mencukupi kebutuhan kelompok dan petani sekitar. Hal mendasar yang perlu diperhatikan dalam penangkaran bibit tiktok ini adalah pemilihan bangsa dan sumber bibit, bentuk dan sarana kandang, pakan, tehnik Inseminasi Buatan (IB), dan penetasan.

II. BANGSA DAN SUMBER BIBIT
Ada beberapa sumber bibit yang dapat dijadikan  sebagai galur induk tiktok dan umumnya merupakan itik petelur, diantaranya adalah itik Alabio, Mojosari, Tegal, Bali dan lainnya. Masing-masing bibit memiliki kelebihan dan kekurangan. (1). Itik Mojosari, bobot badan pada umur 8 minggu sebesar 1,2 kg (jantan) dan 0,9 kg (betina). Umur pertama bertelur 180 hari dengan bobot telur 57 gr. Puncak produksi telur dicapai pada minggu ke 14 – 17 yaitu sebesar 87%. (2). Itik Alabio, produksi telurnya berkisar 84 – 151 butir per tahun. Persentase produksi yang ekonomis adalah 48 – 66%, kondisi ini akan dicapai sangat bergantung pada jenis dan susunan pakan. (3).  Itik Tegal, produksi telur berkisar antara 84 – 134 butir per tahun. Pertama bertelur umur 160 hari dengan bobot badan 1,4 kg. Bobot telur pertama adalah 48 gr. (4). Itik Bali, produksi telur per tahun rata-rata sebanyak 180 butir, dengan bobot telur sebesar 64 gr. Pada umur 12 minggu bobot badannya sebesar 1,7 kg (jantan) dan 1,5 kg (betina). (5.) Entog, digunakan sebagai pejantan yang diambil semennya (sperma) untuk kebutuhan kawin suntik (inseminasi buatan) dengan induk lokal. Sekali kawin suntik kondisi spema masih mampu hidup di saluran reproduksi itik betina hingga 7 hari, namun demikian sebaiknya tidak boleh lebih dari 4 hari. Sehinga dalam waktu satu minggu dapat dilakukan kawin suntik sebanyak 2 kali.

III. BENTUK DAN SARANA KANDANG
3.1 Bentuk kandang induk

3.2 Bentuk kandang pejantan (entog)

3.3 Bentuk kandang DOT (Brooder)

IV. PAKAN

V. TEKNIK INSEMINASI BUATAN (KAWIN SUNTIK) PADA ITIK

VI. PENETASAN

 

Brosur isi lengkap silahkan kirim pesan melalui  email Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya / Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


LAST_UPDATED2
 
Peningkatan Pendapatan Usahatani dengan Penangkaran Benih Padi Varietas Unggul (2008) PDF Cetak E-mail
Oleh Ikrarwati, dkk   
Kamis, 08 Juli 2010 00:00

PENDAHULUAN

Pengembangan pertanian khususnya pada ekosistem sawah di Jakarta diarahkan kepada pengembangan agribisnis perkotaan yang produktif, sesuai dengan kondisi agroklimat, kemampuan sumberdaya alam serta dukungan teknologinya. Daerah pengembangan agroekosistem sawah terletak pada 3  wilayah kota, yaitu Jakarta Timur seluas 245 ha (16,9%), Jakarta Barat seluas 341 ha (23,58%) dan Jakarta Utara seluas 860 ha (59,47%). Fakta yang ditemukan pada usahatani lahan sawah adalah rendahnya pendapatan petani yang disebabkan oleh tingginya biaya produksi dan rendahnya pendapatan yang diterima dari hasil panen.

Salah satu inovasi teknologi yang prospektif diadopsi untuk meningkatkan pendapatan petani melalui usahatani padi adalah teknologi penangkaran benih padi varietas unggul. Hal ini menjadi tujuan utama dalam rangka meningkatkan pendapatan para petani padi sawah. Dengan menghasilkan benih padi varietas unggul bersertifikat berarti harga jual yang diterima oleh petani lebih tinggi jika dibandingkan dengan padi konsumsi. Selain itu penangkaran benih padi di wilayah Jakarta bertujuan untuk menjaga ketersediaan benih di musim tanam dan meningkatkan kesadaran petani untuk menggunakan benih padi varietas unggul bersertifikat.

Potensi usaha penangkaran benih padi cukup tinggi melihat kebutuhan benih di wilayah Jakarta. Perkiraan kebutuhan benih padi dalam satu tahun untuk Wilayah Jakarta sebesar 50 ton (dengan catatan kebutuhan benih 20-25 kg/ha, intensitas penanaman 2 kali dalam setahun). Biasanya harga jual padi kering panen berkisar antara Rp 2.000 s/d 2.200 per kilogram. Jika petani menjual benih langsung kepada petani perkiraan harga yang akan dijual sebesar antara Rp. 3.000 - 3.500 per kilogram atau dengan sistem barter 1 kg benih padi ditukar dengan 1,5 kg padi konsumsi. Namun jika dijual melalui kios maka harga yang diperoleh bisa mencapai Rp. 4000/kg.

LAST_UPDATED2
 
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) Padi Sawah di Jakarta (2008) PDF Cetak E-mail
Oleh Emi, dkk   
Rabu, 07 Juli 2010 00:00

I. PENDAHULUAN

Dalam beberapa tahun belakangan ini, telah terjadi penurunan produksi padi akibat degradasi lahan sawah di daerah sentra produksi. Penurunan produksi padi terutama pada lahan irigasi yang dikelola secara intensif, erat kaitannya dengan pemberian pupuk kimia dengan takaran yang semakin meningkat dan kurangnya ketersediaan bahan organik. Akibatnya terjadi ketidak seimbangan unsur hara dalam tanah. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut diatas, telah dikembangkan model Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). PTT
adalah suatu pendekatan sinergis dalam penerapan komponen teknologi yang saling menunjang antara satu dengan yang lainnya, dengan mempertimbangkan karakteristik lingkungan tanaman, kondisi sosial, ekonomi dan budaya petani setempat secara partisipatif dan spesifik lokasi (Makarim. dkk, 2005). Tujuan dari penerapan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui aplikasi teknologi yang cocok sesuai
kondisi setempat, guna meningkatkan hasil padi dan mutu beras, sekaligus untuk menjaga kelestarian lingkungannya.

II. KONSEP PTT
Belum optimalnya pengelolaan lahan dapat diketahui dari ciri-ciri : 1) rendahnya efisiensi penggunaan input, 2) rendahnya hasil tanaman, 3) menurunya produktivitas lahan, 4) banyaknya permasalahan, seperti meningkatnya serangan hama penyakit, timbulnya kahat hara dan pencemaran lingkungan.

III. KOMPONEN TEKNOLOGI PTT
Komponen teknologi produksi padi, terdiri dari varietas unggul, pengolahan tanah, pengairan, pemupukan, pengendalian hama penyakit sampai penanganan panen dan pasca panen. Petani dapat menentukan atau memilih kombinasi yang akan diterapkan, tergantung pada potensi lahan dan kemampuan petani atau kondisi sosial ekonomi setempat.

IV. PEMILIHAN KOMPONEN TEKNOLOGI
Ada beberapa komponen teknologi PTT dalam T.A. 2006 s/d 2008, masih dibina baik oleh BPTP maupun Oleh Dinas terkait antara lain:
A. Penggunaan Varietas Unggul
Varietas unggul baru yang digunakan adalah varietas Ciherang.

B. Benih
Penggunaan benih bermutu. Untuk mendapatkan benih bermutu, petani mendapatkan dari kios-kios setempat serta dari Balit Sukamandi, yang bersertifikat.

C. Tanam Pindah (Tapin) - Jajar legowo 2:1 dan 4:1
Tanam jajar legowo di lokasi, menggunakan Jajar legowo 4:1. Sebelum ada pembinaan, rata-rata petani cara tanamnya menggunakan tegelan (20cm x 20cm).

D.BWD (Bagan Warna daun)
Bagan Warna daun (BWD), dilakukan untuk menetapkan kebutuhan nitrogen.


E. Bahan Organik
Adalah bahan yang berasal dari limbah tanaman,kotoran ayam atau hasil pengomposan jerami atau sisa tanaman lain.

F. Pengendalian Hama Penyakit Terpadu (PHT)

 

Brosur isi lengkap silahkan kirim pesan melalui  email

Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya / Alamat e-mail ini diproteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihatnya


LAST_UPDATED2
 


JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL
Joomla Templates by JoomlaVision.com