Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Banner
Banner5
eproduk
Sinar Tani
banner2
M-KRPL
M-KRPL
Model Kawasan Rumah Pangan Lestari PDF Cetak E-mail

MODEL KAWASAN RUMAH PANGAN LESTARI  (M-KRPL)

Seiring dengan pertambahan penduduk dan alih fungsi lahan pertanian yang tidak akan pernah bisa dihentikan, maka berbagai upaya untuk tetap mengusahakan tercapainya kemandirian pangan pun harus terus dilakukan, dievaluasi, diperbaiki dan diapresiasi. Kemandirian pangan yang dicirikan dengan tersedianya pangan yang bergizi dan aman untuk kesehatan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan sehingga pemerintah dan masyarakat harus terus bekerjasama secara kreatif dan kritis dalam mewujudkan dan kemudian mempertahankannya.

Adanya kesadaran atas perlunya kerjasama yang kreatif dan kritis antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan kemandirian pangan tersebutlah maka mulai  tahun 2012, Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia menginisiasi suatu model  pemanfaatan pekarangan dan lahan sempit sebagai tempat produksi bahan pangan yang dibutuhkan oleh keluarga Indonesia. Model tersebut diberi nama Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL).

KONSEP M-KRPL

M-KRPL dikreasi dari salah satu budaya bangsa yang berharga, yaitu memanfaatkan pekarangan sebagai sumber bahan pangan keluarga melalui penanaman berbagai tanaman sayuran, buah-buahan, umbi-umbian dan tanaman obat serta pemeliharaan ternak. Demi memberikan dampak yang lebih luas dalam rangka kemandirian pangan, maka konsep Rumah Pangan (RP) tersebut kemudian secara kreatif dan kritis dikembangkan menjadi konsep Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

Penambahan kata “kawasan” dibagian depan dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa tujuan dari program ini tidak hanya sekedar rumah per rumah melainkan dikembangkan dalam skala lebih luas. Berbeda dengan Rumah Pangan (RP) yang dilaksanakan rumah per rumah secara sendiri-sendiri tanpa ada keterkaitan dengan yang lain, KRPL diharapkan dapat melibatkan banyak rumah tangga dan saling terkait yaitu berbasis Rukun Tetangga/Rukun Warga (RT/RW), dusun (kampung), desa, atau wilayah lain yang memungkinkan. Dalam hal ini, partisipasi aktif masyarakat adalah suatu keharusan. Posisi pemerintah dalam program ini hanyalah sebagai penggerak awal dan pendamping yang ikut membimbing dan mendukung terbentuknya KRPL. Dengan kata lain, KRPL ini harus direncanakan dan dilaksanakan secara partisipatif (dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat ) serta kemudian dievaluasi dan disempurnakan secara kreatif dan kritis oleh masyarakat dan pemerintah melalui aparat penggerak/penyuluh di lapangan.

Dengan adanya partisipasi aktif masyarakat sejak awal perencanaan, pelaksanaan sampai dengan evaluasi dan penyempurnaan tersebut, diharapkan pula bahwa pembentukan kawasan rumah pangan akan berlanjut secara lestari. Itulah yang diinginkan dan dimaksudkan dengan penambahan kata “lestari” pada konsep KRPL. Selain itu, untuk mendukung dan menjamin keberlanjutan (kelestarian) Kawasan Rumah Pangan, maka penyediaan dan ketersediaan bibit/benih menjadi salah satu faktor pendukung yang penting. Maka dalam konsep KRPL, kebun bibit menjadi salah satu prinsip yang wajib ada. Kebun bibit tersebut cukup satu untuk satu kawasan dan dikelola oleh masyarakat secara partisipatif.

Dan, sebagai langkah awal yang logis agar KRPL dapat berkembang, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di seluruh propinsi di Indonesia, melaksanakan suatu program percontohan (model) dan wahana pembelajaran bagi kelompok masyarakat di beberapa kabupaten/kota. Rintisan awal tersebut dinamakan Model KRPL (M-KRPL).

M-KRPL fokus pada pencapaian 2 (dua) sasaran utama, yaitu 1) penyediaan pangan dan sumber gizi, dan 2) penyediaannya secara lestari. Aspek “penyediaan pangan dan sumber gizi” akan dicapai melalui penyediaan fisik tanaman/hewan yang didukung dengan penyediaan dan pengelolaan media tanam, pupuk/pakan, air dan bibit serta sarana dan prasarana yang memadai lainnya. Aspek “penyediaan secara lestari” akan dicapai melalui 1) kelembagaan/pengorganisasian kelompok masyarakat melalui pelibatan dan peran serta aktif masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan penyempurnaan; serta 2) pembangunan dan pengelolaan kebun bibit desa/kebun bibit kelompok (KBD/KBK) yang dapat menjamin pasokan benih/bibit secara sinambung.

Dalam pelaksanaannya, M-KRPL berpegang pada 5 prinsip dasar KRPL yaitu (i) pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan, (ii) diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal, (iii) konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan), dan (iv) menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa/kebun bibit kelompok (KBD/KBK) menuju (v) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain tujuan dari M-KRPL ini adalah:

  1. Memenuhi Kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari.
  2. Meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan pekarangan di perkotaan mauoun perdesaan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak dan ikan, serta diversifikasi pangan.
  3. Mengembangkan sumber benih/bibit untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan dan melakukan pelestarian tanaman pangan lokal untuk masa depan.
  4. Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.

 

Tahapan Pelaksanaan M-KRPL

Dalam implementasinya, M-KRPL harus direncanakan dan dilaksanakan secara partisipatif (dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat ). Adapun tahapan pelaksanaannya dapat dilakukan secara fleksibel seseuai situasi dan kondisi yang ada di lokasi. Berikut tahapan pelaksanaan M-KRPL secara umum:

1. Penentuan lokasi dan kelompok masyarakat yang akan menjadi kooperator

Penentuan lokasi dan kelompok masyarakat yang akan menjadi kooperator dilakukan melalui konsultasi dan koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Dinas/Instansi terkait lainnya yang berwenang di Pemda setempat. Dilakukan pula observasi lapang terkait sumberdaya fisik, lingkungan, SDM, teknologi, dan sosial ekonomi.

2. Identifikasi Kebutuhan dan peran Kelompok Masyarakat Kooperator

Analisis kebutuhan dan peran stakeholders akan dilakukan melalui pertemuan partisipatif, yaitu 1) diskusi kelompok besar dan dilanjutkan dengan 2) diskusi mendalam dengan beberapa orang yang dianggap  akan menjadi pemimpin/penggerak bagi anggota lainnya. Identifikasi kebutuhan akan meliputi kebutuhan sarana dan prasarana, jenis tanaman/ternak, ketersediaan dan pengelolaan air, media tanam, pupuk/pakan, teknologi, dan kebutuhan lainnya yang sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Identifikasi akan meliputi pula, lokasi dan luas kebun bibit, lokasi dan luas demplot-demplot pekarangan/area terbuka. Selain itu, hal penting yang harus diutamakan adalah pengorganisasian/pembagian peran dan penyusunan perangkat organisasi kelompok masyarakat kooperator sehingga nantinya kelompok tersebut akan bekerja sama dengan harmonis didampingi dan didukung oleh Dinas Pertanian (Penyuluh) dan Tim BPTP.

3. Penentuan rencana kegiatan M-KRPL

Rencana kegiatan meliputi 1) desain kebun bibit serta tempat pembuatan kompos dan media tanam. Dirancang juga manajemen pengelolaan dari kebun bibit dan tempat penmbuatan kompos/media tanam tersebut, dan 2) lokasi, desain, penataan dan manajemen pengelolaan pekarangan/area terbuka sebagai M-KRPL beserta lingkungan kawasan lingkungannya. Rencana tersebut nantinya akan dimonitor dan dievaluasi secara berkala untuk melihat apakah target yang telah ditentukan telah tercapai atau belum dan menentukan modifikasi atau perbaikan yang diperlukan agar target yang telah disusun dapat tercapai.

4. Peningkatan kapasitas SDM

Peningkatan kapasitas SDM meliputi Training of Trainers (TOT) dan pelatihan-pelatihan lainnya yang diperlukan sesuai hasil diskusi dan identifikasi kebutuhan, seperti pelatihan pembibitan, penyemaian benih, pembuatan media tanam, dan lain sebagainya.

5. Pelaksanaan M-KRPL

Pelaksanaan M-KRPL dilakukan dari masyrakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

6. Peningkatan Kinerja M-KRPL

Demi kelancaran dan peningkatan kinerja M-KRPL maka harus terus dilakukan monitoring dan evaluasi secara bersama-sama oleh kelompok masyrakat kooperator dan tim pendamping secara berkala. Selanjutnya dilakukan modifikasi dan perbaikan segala hal yang dianggap kurang baik.

 


Joomla Templates by JoomlaVision.com